ALAT DETEKSI LONGSOR UGM SELAMATKAN 100 KK DI ACEH BESAR

ByVisions education

ALAT DETEKSI LONGSOR UGM SELAMATKAN 100 KK DI ACEH BESAR

Hujan deras yang mengguyur Aceh Besar telah menyebabkan longsor dan banjir bandang di Desa Neuhun, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada Sabtu (28/11) pukul 19.30. Daerah ini merupakan tempat relokasi korban Tsunami 2004. Lokasi ini merupakan lahan bekas bukit yang dipotong untuk dijadikan pemukiman. Kondisi lingkungan kurang memadai karena banyak drainase yang tertutup menyebabkan timbulnya genangan. Kondisi tersebut diperburuk karena ada aktivitas penambangan di bagian atas permukiman.

Pada saat sebelum kejadian, tim dari UGM beserta BPBD sedang menyiapkan kegiatan tahap akhir dari pemasangan early warning system (EWS) atau sistem peringatan longsor dini. Kegiatan yang dilakukan tim dari UGM dipimpin Dr. Teuku Faisal Fathani ini melakukan berupa persiapan pelaksanaan gladi evakuasi mandiri. Setelah EWS terpasang, lima jam sebelum kejadian longsor dan banjir bandang, sirine tiltmeter EWS sudah berbunyi. “Sirine telah berbunyi saat hujan deras turun sehingga warga yg sedianya akan berlatih evakuasi dialihkan menjadi evakuasi yang sebenarnya,” kata Faisal Fathani, Senin (30/11).

Dikatakan Faisal, EWS yang terpasang bekerja dengan baik pada pukul pukul 12.05 dan 14.15 WIB memberikan tanda ancaman, 5 jam sebelum kejadian longsor dan banjir bandang menyebabkan 100 Kepala Keluarga (KK), yaitu 40 KK di bagian atas yang berisiko tinggi dan 60 KK di bagian bawah dapat melakukan evakuasi sebelum bencana.” Longsoran sedimen dari banjir bandang masuk ke dalam 10 rumah dari 40 rumah yang terancam,” terangnya.

Menurut Faisal, sejak awal daerah ini sudah diketahui memiliki risiko tinggi longsor. Oleh karena itu, BNPB dan BPBD Aceh Besar bekerjasama dengan UGM memasang EWS Longsor. Sementara kondisi saat ini, kata Faisal, pada tebing masih tersisa batu-batu yang besar ukuran 3 m x 3 m yang siap meluncur dan dapat berisiko merusak lebih banyak rumah. Beberapa rekomendasi yang perlu dilakukan adalah warga yang terancam tetap ditampung di tempat yang aman dan disediakan kebutuhan dasar. “Material yang siap meluncur agar diamankan,” ujarnya.

Selain itu, penambangan galian C di perbukitan dengan menggunakan alat berat agar dievaluasi kembali. Namun, yang tidak kalah penting, yaitu segera dilakukan perbaikan kestabilan lereng. “Kita sarankan, EWS dipastikan agar terus berfungsi agar bisa mendeteksi ancaman,” paparnya.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, mengtakan di tempat lain banjir bandang juga terjadi di Desa Krueng Bate, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan sejak Jumat (27/11) malam. Sebanyak 92 unit rumah tertimbun lumpur akibat kejadian itu. Arus banjir bercampur lumpur menghanyutkan pohon-pohon berukuran besar. Sementara di Desa Pulo Paya dan Gunung Kapur, ratusan rumah penduduk terendam hingga setinggi 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. Kondisi ini dinilai tidak separah di desa Krueng Bate. Tidak ada korban jiwa dari bencana tersebut.

Banjir bandang juga merusak fasilitas umum seperti jalan, jembatan, masjid, bangunan sekolah, fasilitas kesehatan seperti puskesmas, serta lahan perkebunan dan pertanian. Hingga pagi tadi, upaya penanganan darurat terus dilakukan. Salah satunya memotong sejumlah pohon kayu yang menimpa rumah warga. Termasuk memberikan bantuan untuk pembersihan rumah korban banjir yang tertimbun lumpur. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

 
 
 

About the author

Visions education administrator

A person with an eagerness in learning something new. I am able to speak and write Japanese and Mandarin besides English.I’m skilled at operating computer including language programming and editing software.

Leave a Reply